Rabu, 16 Desember 2009

US Dollar Menguat Menjelang Kebijakan Fed; Euro Terpuruk


Daily Brief (16-12-2009), US dollar menguat terhadap segenap mata uang utama lainnya dua hari menjelang pengumuman kebijakan moneter the Federal Reserve dalam 2 hari rapat komite pasar terbuka federal (FOMC meeting) yang dimulai hari Selasa kemarin. Perhatian terhadap hasil rapat FOMC meningkat terutama terhadap outlook kenaikan suku bunga the Fed setelah data tenaga kerja dan penjualan eceran yang dirilis dua pekan terakhir menunjukan peningkatan. The Fed diperkirakan akan keluar dari kebijakan moneter ultra loggar dengan menaikan suku bunga acuannya lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya. Spekulasi percepatan kenaikan suku bunga the Fed kian mengental menyusul meningkatnya data inflasi Amerika yang dirilis hari Selasa kemarin. US dollar menguat ke level tertinggi selama 2½ bulan terhadap euro ke $1.4504, ke level tertinggi selama hampir 2½ bulan terhadap Swiss franc ke CHF 1.0429, dan menguat mendekati level tertinggi selama 2 pekan terhadap aussie ke $0.9035, dan menguat ke level tertinggi selama 2 pekan terhadap yen ke ¥89.95. Namun US dollar sedikit tertahan terhadap sterling yang menguat terhadap mata uang utama lainnya menyusul data yang menunjukan meningkatnya data inflasi (CPI) Inggris.

Data inflasi (PPI) menjadi data kunci yang memperkokoh spekulasi percepatan kenaikan suku bunga the Fed. Biro statistik tenaga kerja (BLS) Departemen Tenaga Kerja Amerika kemarin mengumumkan indeks harga di tingkat produsen (PPI) bulan November meningkat tajam menjadi 1.8%, peningkatan bulanan terbesar selama lebih dari 1 tahun, meningkat 6 kali lipat dibanding peningkatan bulan sebelumnya sebesar 0.3%. Peningkatan tersebut juga jauh lebih besar dibanding rata-rata perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkiraka meningkat 0.8%. Dalam laporannya yang dirilis melalui situs resmi BLS www.bls.gov BLS melaporkan kenaikan indeks harga di tingkat produsen dipicu oleh tingginya harga energi yang meningkat 5.9% pada periode tersebut. Di luar energi dan makanan, indeks harga (PPI X) dilaporkan meningkat 0.5% setelah terkontraksi 0.6% pada bulan sebelumnya dan lebih besar dibanding rata-rata perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan meningkat 0.2%.

Meningkatnya data PPI yang dirilis the Fed kemarin merupakan data terakhir yang meyakinkan bahwa pemulihan ekonomi mulai mengumpulkan tanaga. Retil sales juga menunjukan peningkatan bulan lalu dan penurunan tenaga kerja berkurang. Para pelaku pasar khawatir terhadap apa yang akan membuat the Fed berhenti dan apa yang akan membaut the Fed menghentikan kenaikan inflasi. Setiap orang mengamati inflasi, tutur Burt White, managing director LPL Fianance.

Namun banyak ekonom menyatakan peningkatan indeks harga produsen yang dilaporkan Dpartemen Tenaga Kerja tersebut dipicu oleh tingginya biaya energi, tidak mengisyaratkan besarnya tekanan inflasi yang menjadikan ekonomi tetap tertekan oleh kelebihan kapasitas. Anna Piretti, senior ekonom BNP Paribas menyatakan jika anda melihat pada tahapan-tahapan indeks harga produsen sebelumnya, harga seharusnya bertahan. Piretti menyatakan dirinya berpikir bahwa penguatan kali ini tidak akan berlanjut.

Selain data inflasi, solidnya outlook pemulihan ekonomi Amerika juga diperkuat dengan meningkatnya data produksi industri (industrial production). The Fed melaporkan industrial production meningkat 0.8% pada buan November setelah tidak mengalam perubahan (0.0%) pada ravisi bulan sebelumnya dan lebih besar dibanding rata-rata perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan meningkat 0.5%. Berlanjutnya pemulihan sektor manufaktur menjadi penopang utama peningkatan data produksi. Ekonom berharap hal tersebut akan membantu memperbaiki kondisi pasar tenaga kerja.

Namun cerahnya data produksi dibayangi oleh turunya aktivitas manufaktur di negara bagian New York yang merupakan barometer aktivitas bisnis Amerika. The Fed negara bagian New York melaporkan indeks aktivitas bisnis manufaktur di negara bagian tersebut anjlok menjadi 2.55 setelah meningkat 23.51 pada bulan sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata perkiraan ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan meningkat menjadi 24.00.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar