
Daily Brief (17-12-2009), Bank sentral Amerika, the Federal Reserve, mengakhiri dua hari rapat komite pasar terbuka federal (FOMC meeting) pada Kamis (WIB) dini hari kemarin. Sesuai perkiraan, the Fed kembali mempertahankan suku bunga acuannya pada rekor terendah antara 0-0.25% dan terus menggunakan frase “Extended Period” sebagai ungkapan untuk mempertahankan suku bunga pada level terendah untuk jangka waktu lebih panjang. Perhatian para pelaku pasar lebih terfokus pada pernyataan the Fed seputar kondisi ekonomi dan proyeksi kebijakan moneter selanjutnya. Perhatian tersebut mengemuka sejak dua pekan lalu dimana para pelaku pasar memperkirakan the Fed akan meninggalkan kebijakan moneter ultra longgarnya dengan menaikan suku bunga lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya. The Fed memangkas suku bunganya ke rekor terendah antara 0-0.25% tahun lalu dan menjalankan upaya sejumlah besar pinjaman darurat untuk melawan krisis finansial.
Spkulasi percepatan kenaikan suku bunga the Fed mengemuka dua pekan lalu seiring kian solidnya outlook pemulihan ekonomi Amerika menyusul rilisan serangkaian data fundamental ekonomi yang terus menunjukan peningkatan. Diawali dengan rilisan data tenaga kerja (unemployment dan non-farm payrolls) dua pekan lalu yang menunjukan kondisi pasar tenaga kerja Amerika tengah mengalami pemulihan, solidnya outlook pemulihan ekonomi Amerika diperkuat dengan meningkatnya data penjualan eceran (retail sales), serta meningkatnya indeks harga di tingkat produsen (PPI) yang dirilis hari Rabu lalu.
Sikap hati-hati nampaknya mendominasi the Fed dalam mengambil keputusan untuk kembali mempertahankan suku bunganya. Dalam konferensi pers pasca FOMC meeting pimpinan the Fed Ben Bernanke, yang oleh majalah Time Magazine dinobatkan sebagai “Person of the Year” tahun ini, menyatakan komite (FOMC) akan mempertahankan range target untuk the federal funds rate pada rekor terendah 0 hingga 0.25% dan terus mengantisipasi bahwa kondisi ekonomi, termasuk rendahnya tingkat pemanfaatan sumber daya, rendahnya tren inflasi, dan stabilnya ekspektasi inflasi, kemungkinan besar masih membutuhkan suku bunga pendanaan federal untuk period lebih panjang (extended period).
Secara umum the Fed mengakui bahwa aktivitas ekonomi terus meningkat. Berikut kutipan pernyataan the Fed berkenaan kondisi ekonomi sebagaimana dilansir melalui situr resmi the Fed http://www.federalreserve.gov : "Information received since the Federal Open Market Committee met in November suggests that economic activity has continued to pick up and that the deterioration in the labor market is abating. The housing sector has shown some signs of improvement over recent months. Household spending appears to be expanding at a moderate rate, though it remains constrained by a weak labor market, modest income growth, lower housing wealth, and tight credit. Businesses are still cutting back on fixed investment, though at a slower pace, and remain reluctant to add to payrolls; they continue to make progress in bringing inventory stocks into better alignment with sales. Financial market conditions have become more supportive of economic growth. Although economic activity is likely to remain weak for a time, the Committee anticipates that policy actions to stabilize financial markets and institutions, fiscal and monetary stimulus, and market forces will contribute to a strengthening of economic growth and a gradual return to higher levels of resource utilization in a context of price stability.”
Hal yang cukup menggembirakan datang dari pernyataan the Fed berkenaan dengan dukungannya terhadap ekonomi melalu program pembelian aset (quantitative easing). FOMC menyatakan ” To provide support to mortgage lending and housing markets and to improve overall conditions in private credit markets, the Federal Reserve is in the process of purchasing $1.25 trillion of agency mortgage-backed securities and about $175 billion of agency debt. In order to promote a smooth transition in markets, the Committee is gradually slowing the pace of its purchases, and it anticipates that these transactions will be executed by the end of the first quarter of 2010. The Committee will continue to evaluate the timing and overall amounts of its purchases of securities in light of the evolving economic outlook and conditions in financial markets.”
Perhatian terutama tertuju pada bagian akhir dari pernyataan tersebut dimana FOMC menyatakan akan terus mengevaluasi waktu dan besaran dana untuk program pembelian aset. Beberapa waktu lalu, ekspektasi bahwa the Fed akan mengetatkan kebijakan moneternya melalui penyesuaian program pembelian aset terlebih dahulu sebelum menyesuaikan suku bunga disampaikan Presiden the Federal Reserve negara bagian Santa Louis James Bullard yang menyatakan bahwa para otorita moneter kemungkinan akan memperketat kebijakan moneternya dengan menyesuaikan program pembelian aset (QE) terlebih dahulu dibanding dengan meningkatkan suku bunga.
Berbicara dalam presentasi dihadapan sebuah grup banker, pertengahan bulan lalu, Bullard menyatakan tantangan utama bagi kebijakan moneter kedepan adalah bagaimana untuk menyesuaikan program pembelain aset tanpa membangkitkan inflasi sementara suku bunga pada area nol persen. Bullard menambahkan, dengan mengasumsikan bahwa the Fed bertindak dengan cara yang sama dengan apa yang dilakukan sebelumnya, hal tersebut berarti bahwa the Fed tidak akan mulai meningkatkan suku bunganya hingga awal 2012. Menurut Bullard, fokus pasar terhadap suku bunga mungkin salah tempat dikarenakan di masa lalu, the Fed menunggu hingga 2½ hingga 3 tahun setelah berakhirnya resesi sebelum menaikan suku bunga.
Meskipun dalam pernyataannya the Fed tidak memberikan indikasi akan dilakukannya percepatan kenaikan suku bunga sebagaimana diperkirakan sebelumnya, namun analis menilai pernyataan tersebut cukup natural dengan perpaduan antara elemen ketegasan dan keluwesan. Penilaian positif atas pernyataan the Fed mendorong investor untuk kembali memburu US dollar maupun aset-aset berdenominasi US dollar dan melepas aset-aset dengan imbal hasil tinggi. Langkah investor tersebut mendorong US dollar menguat setelah di awal perdagangan sempat tertekan dipicu sikap menunggu terhadap kebijakan the Fed. US dollar kembali ke area penutupan hari Selasa lalu kecuali terhadap sterling dimana US dollar tertahan di bawah area penutupan sebelumnya setelah sempat tertekan ke level terendah selama 1 pekan ke $1.6411.
Pernyataan the Fed bahwa aktivitas ekonomi terus meningkat juga dibuktikan dengan meningkatnya data perumahan yang dirilis kemarin. Ijin pembangunan perumahan baru (building permits) dilaporkan meningkat tajam sebesar 6% atau sebanyak 584.000 unit pada bulan November setelah terkontraksi 4.17% pada bulan sebelumnya. Bangkitnya pasar perumahan Amerika, sektor ekonomi yang menjadi pusaran resesi global, juga dibuktikan dengan meingkatnya pembangunan perumahan baru (housing starts) pada bulan yang sama yang meningkat 8.9% atau sebanyak 574.000 unit setelah terkontraksi 10.1% (revisi) pada bulan sebelumnya. Meningkatnya aktivitas ekonomi Amerika juga terbukti dengan meningkatnya tingkat inflasi pada bulan yang sama. Setelah terbukti dengan meningkatnya indeks harga di tingkat produsen (PPI) hari Selasa lalu, peningkatan inflasi kembali dibuktikan dengan meningkatnya indeks harga di tingkat konsumen (CPI) bulan November yang meningkat 1.8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (YoY), setelah terkontraksi 0.2% bulan Oktober lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar