
Daily Brief (09-12-2009), Dua mata uang aman (US dollar dan yen) menguat terhadap segenap mata uang utama lainnya pada perdagangan hari Selasa kemarin. Permintaan terhadap mata uang aman meningkat seiring kekhawatiran terhadap kondisi keuangan pemerintah-pemerintah, terutama di negara-negara besar menyusul laporan dari lembaga pemeringkat utang internasional yang menyatakan penurunan keuangan publik di beberapa negara termasuk di Amerika Serikat dan Inggris. Kondisi tersebut mendorong investor melepas aset-aset maupun mata uang dengan imbal hasil tinggi dalam perdagangan beresiko dan mengalihkan investasinya kedalam mata uang aman (US dollar dan yen).
Selama lebih dari satu tahun, US dollar dan surat utang pemerintah untuk tenor jangka pendek menunjukan perdagangan yang berlawanan dengan saham, komoditi, dan mata uang negara-negara berkembang, dimana investor mempertimbangkan aset-aset lebih beresiko. Laporan dari perusahaan-perusahaan maupun data fundamental ekonomi yang lebih baik dari perkiraan mendorong pembelian equity berupa aset-aset dengan imbal hasil lebih tinggi dan lebih beresiko dan menjual US dollar. Sementara itu, belum tuntasnya masalah-masalah, seperti krisis utang Dubai World, mendorong mata uang dengan imbal hasil rendah, US dollar, sebagai mata uang aman. Investor juga mempertimbangkan yen sebagai mata uang aman. Yen menguat termasuk terhadap US dollar ditopang oleh kegelisahan diantara pejabat-pejabat pemerintah Jepang dan pimpinan-pimpinan perusahaan yang mengkhawatirkan bahwa penguatan yen akan membuat produk-produk ekspor negara tersebut kan menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan pemerintah negara-negara besar mengemuka setelah lembaga pemeringkat utang internasional Moody’s Investors Services menyatakan keuangan publik di Amerika Serikat dan Inggris tengah mengalami penurunan. Moody’s menyatakan kedua negara tersebut harus menetapkan keuangan publik masing-masing dengan tujuan untuk menghindari ancaman terhadap peringkat utang yang saat ini berada pada peringkat tertinggi AAA. Kedua negara tersebut mengelami gelembung defisit anggaran yang dahsyat menyusul langkah pemerintah memompakan milyaran dollar uang kedalam ekonomi untuk membantu melawan penurunan. Moody’s menyatakan negara dengan peringkat utang tertinggi (Amerika Serikat dan Inggris) kemungkinan akan mencoba batasan-batasan peringkat Aaa dari AAA saat ini.
Ancaman penurunan peringkat utang pemerintah Amerika yang disampaiak Moody’s menggerus optimisme akan berkurangnya defisit anggaran pemerintah yang mengemuka setelah Departemen Keuangan Amerika hari Senin lalu yang menurukan estimasi dana talangan likuiditas bank-bank besar. Rencana bank-bank besar penerima bantuan likuiditas untuk mengembalkan dana talangan kepada pemerintah memberi ruang bagi pemerintah untuk memikirkan apakah dan bagaimana dana TARP tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan lainnya seperti penyediaan lapangan kerja atau mereduksi defisit anggaran yang pada tahun 2009 ini memebengkak ke rekor tertinggi $1.4 triliun. Terhadap kondisi keuangan Inggris, investor menunggu laporan pre-budget Inggris yang akan disapiakan menteri keuangan Alistair Darling hari ini (Rabu) yang diperkirakan akan memberikan rincian bagaimana dia akan mereduksi defisit anggaran sebesar £175 milyar.
Selain terhadap peringkat utang kedua negara raksasa tersebut, Moody’s juga menurunkan peringkat utang 6 perusahaan-perusahaa yang berhubungan dengan pemerintah Dubai. Moody’s menyatakan pihaknya tidak dapat mengasumsikan pemerintah Dubai akan berdiri dibelakang utang-utang tersebut. Di pihak lain, lembaga pemeringkat utang lainnya, Fitch Ratings menurunkan peringkat utang Yunani, seraya menyatakan kesangsiannya bahwa pemerintahan baru Yunani akan sanggup untuk menahan besarnya utang. Hari Senin lalu, Standard & Poor’s mengingatkan pihaknya kemungkinan akan menurunkan peringkat utang nasional Yunani.
Keluarnya investor dari perdagangan beresiko (risk aversion) dan mengalihkan dana investasinya kedalam mata uang aman (US dollar dan yen) mendorong kedua mata uang tersebut menguat. Hingga berita ini diturunkan, pukul 03:00 WIB, indeks dollar =USD> yang merupakan indeks nilai tukar US dollar terhadap 6 mata uang parter perdagangan utamanya, melaju ke level tertinggi selama lebih dari 1 bulan ke 76.313. Terhadap mata uang utama linnya, US dollar menguat ke level teringgi selama lebih dari 1 bulan terhadap euro dan Swiss franc masing-masing ke $1.4681 dan CHF 1.0286, ke level tertinggi selama hampir 1½bulan terhadap sterling ke $1.6257, dan ke level tertinggi selama lebih dari 1 pekan terhadap aussie ke $0.9021.
Di sisi lain, US dollar terpuruk terhadap mata uang aman lainnya, yen, melemah untuk kedua kalinya berturut-turut. Setelah membukukan pelemahan terbesar dibanding mata uang utama lainnya akhir pekan lalu pasca rilisan data tenaga kerja, yen terus menguat sejak awal perdagangan pekan ini. Yen menunjukan penguatan ditengah gejolak finansial dan ekonomi disebabkan surplus perdagangan Jepang yang membuatnya sedikit dipercaya oleh pemodal asing. Kementrian keuangan Jepang kemarin mengumumkan surplus current account Jepang bulan Oktober meningkat 42.7% menjadi ¥1.4 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah Jepang kemarin juga mengumumkan paket belanja ekonomi senilai ¥7.2 triliun yang meliputi ¥3.5 triliun untuk membantu negara-negara regional, ¥600 milyar untuk tenaga kerja, dan ¥800 milyar untuk insitatif lingkungan.
Selain terhadap US dollar, yen juga menguat terhadap segenap mata uang utama lainnya. Yen menguat ke level tertinggi sejak awal bulan (1 Desember) terhadap euro, sterling, Swiss franc, maupun aussie masing-masing ke ¥129.78

Tidak ada komentar:
Posting Komentar