Jumat, 11 Desember 2009

BoE Pertahankan Program Pembelian Aset dan Suku Bunga


Daily Brief (11-12-2009), Kebijakan moneter Bank sentral Inggris, BoE, menjadi salah satu isu yang mempengaruhi sentimen perdagangan pada perdagangan hari Kamis. Perhatian terhadap kebijakan moneter BoE meningkat seiring berakhirnya dua hari rapat komite kebijakan moneter (MPC) kemarin. Sesuai perkiraan MPC memutuskan untuk mempertahankan program pembelian aset (Quantitative Easing) sebesar £200 milyar atau setara dengan $325 milyar dan mempertahankan suku bunga acuannya pada rekor terendah 0.5%. Dalam paparan singkatnya yang dimuat dalam situs resmi BoE www.bankofengland.co.uk mengindikasikan para pengambil kebijakan tidak akan merubah kebijakannya hingga paling tidak Februari mendatang saat mereka akan mendapatkan perkiraan pertumbuhan maupun inflasi serta berakhirnya masa program pembelian aset.

Sebagian besar analis menyimpulkan mereka (para pengambil kebijakan BoE) tidak akan menambah skema program pembelian aset seiring ekonomi Inggris nampaknya akan keluar dari resesi terpanjang sejak PD II. Brian Hillard, ekonom di Societe Generale, dikutip dari Reuters, menyatakan hal tersebut hanya merupakan pemikiran realistik bahwa mereka (BoE) telah berakhir. Namun Hillar menambahkan perpecahan nampaknya masih mungkin terhadap dalam komite dan saya (Hillard) tidak berpikir mereka akan meningkatkannya kembali.

BoE mengadopsi program quantitative easing – tarutama pembelian surat utang pemerintah yang didanai dengan pencetakan uang baru – pada Maret lalu dalam upaya (yang tidak pernah dilakukan sebelumnya) untuk mendorong ekonomi yang tergerus oleh gelolak pasar kredit global. Ekonomi Inggris kini menunjukan indikasi peningkatan kembali, harga perumahan meningkat dan hasil survey menujukan berlanjutnya pemulihan aktvitas ekonomi. Namun analis menyatakan hal tesebut akan terjadi dalam jangka waktu lama, sulit, dan para pengambil kebijakan menyatakan hal tersebut akan memakan waktu sebelum produksi kembali ke level sebelum terjadinya krisis. Suku bunga juga diperkirakan akan tetap pada rekor terendah untuk waktu yang lebih lama.

Masalah Fiskal

Selain kebijakan moneter maupun kebijakan quantative easing, masalah lain yang harus dihadapi BoE kali ini adalah outlook kebijakan fiskal. Defisit anggaran Inggris diperkirakan berada pada area rekor terendah pada tahun fiskal 2009 sebesar 13% dari GDP. Meningkatnya defisit anggaran BoE yang menggambarkan kesulitan keuangan publik di Inggris mendorong lembaga pemeringkat internasinal Moody’s Investors Services hari Selasa lalu menyatakan keuangan publik di Amerika Serikat dan Inggris tengah mengalami penurunan. Kesulitan keuangan publik Inggris bahkan berpotensi menurunkan peringkat utang Inggris yang saat ini berada pada peringkat tertinggi AAA.

Namun kekhawatiran terhadap kondisi keuangan publik Inggris sedikit mereda seiring semakin dekatnya pemilihan umum Inggris. Dengan waktu pemilu yang tinggal kurang dari 6 bulan, baik partai berkuasa (partai buruh) maupun partai oposisi (partai konservatif), yang menginginkan kemenangan, berlomba-lomba meluncurkan solusi bagaimana mereka akan menurukan defisit. Menteri Keuangan Alistair Darling hari Rabu lalu mengumumkan kenaikan pajak bagi masyarakat kecuali masyarakat miskin, namun kebijakan tersebut hanya akan diberlakukan pada 2011. Di sisi lain pihak konservatif menyatakan mereka kan membawa defisit turun lebih cepat namun dengan sedikit penjelasan, sebagai gantinya menjanjikan sebuah anggaran darurat pada 50 hari pertama setelah pemilu. George Osborne, yang disebut-sebut sebagai calon menteri keuangan dari partai Konservatif menyatakan pihaknya akan memepertahankan suku bunga serandah mungkin untuk waktu sepanjang mungkin.

Outlook Ekonomi Amerika Serikat

Selain terhadap kebijakan moneter dan masalah fiskal Inggris, isu lain yang menjadi pusat perhatian investor kemarin adalah outlook ekonomi Amerika. Outlook ekonomi Amerika semakin cerah menyusul laporan yang menunjukan berkurangnya jumlah penduduk yang dalam jangka panjang menerima tunjangan pengangguran serta menyempitnya defisit perdagangan Amerika.

Setelah terbukti dengan berkurangnya penurunan jumlah tenaga kerja pada buln November lalu yang tergambar dari data Non-Farm payrolls serta berkurangnya tingkat pengangguran (unemployment) yang dirilis pekan lalu, gambaran cerah kondisi pasar tenaga kerja Amerika kembali dibuktikan dengan berkurangnya jumlah penduduk Amerika yang menerima tunjangan pengangguran dalam jangka panjang (continuing Jobless) yang berkurang menjadi 5.157.000 pekan lalu dari 5.460.000 pada revisi pekan sebelumnya. Namun cerahnya kondisi apasar tenaga kerja Amerika masih dibayangi oleh meningkatnya jumlah penduduk yang untuk pertama kainya mengajukan tunjangan pengangguran (jobless claims yang meningkat menjadi 474.000 pekan lalu dari 457.000 pada pekan sebelumnya.

Cerahnya outlook ekonomi Amerika juga diperkuat dengan laporan yang menunjukan defisit perdagangan Amerika menyempit. Departemen perdagangan Amerika kemarin melaporkan defisi anggaran bulan Oktober sebesar 7.6% menjadi 32.9 milyar pada bulan Oktober seiring pelemahan US dollar yang membantu mengongkrak ekspor. Analis menyakan pemulihan mendukung momentum moderat tersebut. Perhatiannya saat ini akankah ekonomi Inggris kehilangan momentum dan kembali katij ledalam resesi yang dua kali lebih dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar