Daily Brief (21-12-2009), Memasuki perdagangan akhir pekan kemarin, isu timur tengah menjadi isu utama yang mempengaruh sentimen perdagangan di pasar mata uang asing. Setelah didominasi oleh isu keuangan publik dan outlook pemulihan ekonomi dari masing-masing negara terutama Amerika Serikat, perhatian investor kini tertuju pada memanasnya tensi geopolitik di timur tengah yang menimbulkan kekhawatiran terhadap keseimbangan global yang pada akhirnya akan menghambat proses pemulihan ekonomi. Kekhawatiran akan terbambatnya pemulihan ekonomi global mendorong investor mengalihkan dana investasinya dari aset-aset beresiko dengan imbal hasil tinggi kedalam mata uang aman terutama US dollar. Pada perdagnagan akhir pekan kemarin US dollar rally dan berpotensi membukukan kenaikan mingguan terbesar sejak Januari terhadap euro.
Tensi geopolitik timur tengah kembali memanas menyusul laporan pemerintah Irak yang menyatakan telah terjadinya penyusupan militer Iran ke wilayah Irak. Seorang pejabat senior Irak hari Jum’at kemarin melaporkan 11 tentara Iran telah menyusup ke wilayah Irak dan mengambil posisi di sebelah timur ladang minyak yang kepemilikannya diperselisihkan oleh Iran. Deputi kementrian dalam negeri Irak Ahmed Ali al-Khafaji menyatakan telah terjadi serangakian serangan pekan ini di ladang minyak Fakka, sekitar 300 km selatan Baghdad di provinsi Maysan. Al-Khafaji menambahkan Jum’at sore waktu setempat, 11 tentara Iran menyusup perbatasan Iran-Irak dan mengambil alih pengawasan sumur minyak. Mereka mengibarkan bendera Iran, dan hingga saat ini mereka masih disana.
Namun pihak Teheran membantah berita tersebut. Mehr news agency mengutip the National Iranian Oil Company (NIOC) yang menolak berita tersebut. NIOC menyatakan perusahaannya meyangkal serdadu Iran mengamil alih pengawasan beberapa sumur minyak di wilayah Irak.
Khafaji menyatakan Baghdad tidak akan melakukan tindakan militer dan menekankan akan mencari langkah diplomatik untuk situasi ini. Kami menunggu permintaan dari pemimpin kami. Sumur ini bertempat di tanah Irak, 300 meter di dalam Iraq. Ladang ini diperselisihkan antara Irak dan Iran. Kementrian minyak kedua negara telah sepakat untuk menyelesaikan masalah ini secara diplomatik, tutur Khafaji.
Insiden tersebut terjadai hanya beberapa hari setelah menteri perminyakan Irak memberikan kontrak pengoperasian 7 ladang minyak kepada perusahaan-perusahaan raksasa global dalam tender kedua sejak inveasi Amerika tahun 2003. Irak, yang tertekan dalam sektor perminyakan akibat sangsi bertahun-tahun dan perang, memperkirakan kesepakatan diprakarsai pemerintah tersebut secepatnya akan meningkatkan produksi minyak Irak menjadi 12 juta barel per hari, yang akan menempatkannya hampir setara dengan produsen minyak terbesar Saudi Arabia.
Ketegangan antara Irak dan negara tetangganya Iran, yang terlibat pertempuran selama 8 tahun pada 1980-an, meningkat sejak pemerintahan shi’ah berkuasa di Baghdad menyusul terusirnya pemimpin Suni Arab Saddam Hussein tahun 2003. Ketegangan antara Irak dan Iran kali ini menimbulkan kekhawtiran akan terulangnya ketegangan berkepanjangan seperti yang terjadi tahun 1980-an lalu.
Bagi para para pelaku di pasar finansial, meningkatnya tensi geopolitik antara Irak dan Iran menambah kekhawatiran terhatap prospek pemulihan ekonomi gobal setelah dua pekan lalu terdera kasus Dubai World. Kekhawatiran tersebut diekspresikan dengan melepas aset-aset maupun mata uang beresiko dengan imbal hasil tinggi dan mengalihkan dana investasinya kedalam mata uang aman terutama terhadap US dollar. Akibatnya, US dollar rally terhadap segenap mata uang utama lainnya termasuk terhadap yen yang selama ini juga dipilih sebagai mata uang aman. Indeks dollar =USD> yang merupakan indeks nilai tukar US dollar terhadap 6 mata uang partner utama perdagangannya menguat tajam ke level tertinggi selama hampir 4 bulan ke 78.141, rebound dari level terendah selama hampir 15 bulan di 74.170 akhir November lalu, menguat selama 3 pekan berturut-turut dengan penguatan mingguan terbesar sejak awal Juni lalu.
Terhadap mata uang utama lainnya, US dollar menguat ke level tertinggi selama 3½ bulan terhadap euro ke $1.4262 dan berpontensi membukukan mingguan ketiga berturut-turut dengan kenaikan mingguan terbesar sejak awal Januari. US dollar menguat ke level tertinggi selama 1½ bulan terhadap yen ke ¥90.91, ke level tertinggi selama 2 bulan terhadap sterling ke $1.6053 dan membukukan penguatan mingguan selama 5 pekan berturut-turut, dan menguat ke level tertinggi selama hampir 2½bulan terhadap aussie ke $0.8812 dan berpotensi membukukan kenaikan mingguan terbesar selama 13 bulan.
Namun US dollar relatif tertahan terhadap mata uang aman yang telah lama ditinggalkan, Swiss franc. Isu geopolitik yang mejadi pemicu kekhawatiran para pelaku pasar mendorong mereka untuk lebih memeilih Swiss franc sebagai mata uang aman dibanding yen yang selama ini mendampingi US dollar. Swiss franc bertahan di atas level terendahnya selama 3 bulan terhadap US dollar di CHF 1.0507 hari Kamis lalu dan berpotensi ditutup pada teritori positif di akhir pekan. Namun pelemahan Swiss franc pada dua dari lima hari perdagangan pekan lalu menekan Swiss franc pada perdagangan mingguan dan membukukan pelemahan mingguan selama 3 pekan berturut-turut.
news.centuryrealtime.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar