Bursa utama Asia kemungkinan besar masih dalam bayang-bayang koreksi kembali setelah kemarin mengalami tekanan yang cukup dalam terutama Nikkei dimana kondisi ekonomi yang dalam proses pemulihan kembali dipertanyakan lagi.
Pertanyaannya adalah selesaikah factor jual atau koreksi bursa yang terus-menerus melanda bursa global di minggu lalu? Bagi Nikkei (yang buka di sesi 2 karena sesi 1 pasar Jepang libur hari buruh dan thanksgiving) memang masih ada ruang koreksi tersebut, bagi Hangseng masih beragam dan Kospi sendiri nampak sudah enggan melanjutkan reboundnya.
Nikkei memang masih cukup berat untuk bangkit dari keterpurukannya setelah level psikologis bawah 9500 telah terlewati diminggu lalu dimana level psikologis baru dibawah 9000.
Hal ini di minggu lalu terjadi banyak kegiatan yang kurang menguntungkan bursa utama Jepang tersebut, seperti penguatan yen terhadap dollar atau pola safe havens currency yang memberi ruang jual bagi sector utama Nikkei yaitu eksporter tentunya, kemudian factor penggalangan dana dari emiten besar termasuk Mitsubishi UFJ Financial Group yang akan mengeluarkan saham baru senilai $ 11.2 milyar sebagai usaha penggalangan dana untuk modal usaha dan factor kebangkrutan JAL sebagai operator penerbangan terbesar dari Jepang.
Pengumpulan dana atau fundraising capital dari emiten Nikkei yang hampir bernilai $ 40 milyar dalam bentuk saham dan surat hutang tentunya akan melukai perasaan investor lama, sehingga terlihat sekali bagi Nikkei cukup sulit untuk mendekati level 10000nya lagi dipicu pula otoritas fiscal dan moneter atau pemerintahan baru Jepang terkesan berdiam diri atau cuek terhadap keterpurukan bursanya. Factor kesimpangsiuran politik pemerintahan Jepang yang baru juga ikut serta memberi mood investor yang kurang bagus ke bursa.
Diikuti pula oleh keputusan bank sentral Jepang, BoJ di akhir minggu lalu yang tak merubah suku bunga rendahnya sebagai upaya dan merevitalisasi seluruh kegiatan ekonomi.
Hangseng kembali gagal menguat setelah beberapa investor menutup perdagangan akhir minggu dengan aksi ambil untung sesaat setelah otoritas moneter China menetapkan aturan baru ratio kecukupan modal untuk usaha perbaikan sector perbankan dalam menghadapi apresiasi yuan disertai lelang tanah di kawasan elit Hongkong masih menjadi tanda tanya besar untuk keuntungan dimasa mendatang bagi sector property karena harga property yang tinggi tentunya berefek terhadap daya beli konsumen.
Akan naiknya harga listrik China satu sisi menguntungkan produsen listrik namun disisi lain sungguh memberatkan masyarakat dan produsen batu bara yang kemungkinan besar membengkaknya biaya produksi.
Kospi kemungkinan masih akan terus menguat bila sentiment dari Jepang tak mempengaruhi mood investor Korea Selatan setelah sector eksporter khususnya eksporter tehnologi yang terbantu nilai kurs mata uangnya terhadap dollar.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa sector tehnologi masih tampak terpuruk karena kinerja Dell dan Sony tak bagus diakhir minggu lalu disertai penurunan peringkat emiten semiconductor US sehingga sangat mempengaruhi emiten di regional Asia.
Sector perbankan kemungkinan cukup berat dibebani rasio modal yang lebih besar, dibarengi masalah likuiditas yang kembali dipertanyakan setelah perbankan Jepang ramai-ramai mengoleksi dana segar dengan cara surat hutang barus diterbitkan dan penjualan saham baru.
Kami melihat dalam minggu depan ini range level dari Nikkei ada di 9065 hingga 9700, Hangseng antara 21875 hingga 22800 dan Kospi di 209 hingga 218.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar