Daily Brief (25-11-2009), Ekonomi Amerika tumbuh lebih lamban dibanding estimasi sebelumnya pada kuartal ketiga tahun ini. Departemen perdagangan Amerika melalui Biro Analisa Ekonomi (BEA) kemarin mengumumkan estimasi kedua gross domestic product (GDP) yang meruapakan nilai pasar atas produk barang maupun jasa yang diproduksi oleh tenaga kerja dan properti yang berlokasi di Amerika direvisi menurun menjadi 2.8%, lebih rendah dibanding estimasi pertama yang dirilis bulan lalu sebesar 3.5% dan sedikit lebih rendah dibanding estimasi ekonom dalam polling Reuters yang memperkirakan tumbuh 2.9%. Namun pertumbuhan tersebut (2.8%) masih merupakan pertumbuhan terbesar sejak kuartal ketiga tahun 2007 saat ekonomi Amerika tumbuh 3.6% sebelum mulai mengalami kontraksi pada kuartal pertama tahun 2008.
Kembalinya ekonomi Amerika kedalam fase pertumbuhan pada kuartal ketiga, setelah terkontraksi selama 4 kuartal berturut-turut, kemungkinan merupakan akhir dari resesi paling dalam dalam 70 tahun terakhir. Pada kuartal kedua lalu, ekonomi Amerika tercatat mengalami kontraksi sebesar 0.7%.
Gross domestic product (GDP) Amerika kuartal ketiga pada estimasi kedua dibatasi oleh belanja konsumen yang tidak sebesar pada estimasi pertama, serta meningkatnya impor dan rendahnya investasi dalam bangunan komersial. Belanja konsumen (consumer spending) yang secara normal meliputi lebih dari 2/3 aktivitas ekonomi Amerika, dilaporkan meningkat 2.9%, lebih rendah dibanding 3.4% pada laporan sebelumnya. Namun peningkatan tersebut merupakan peningkatan terbesar sejak kuartal pertama tahun 2007 dan merepresentasikan sebuah perubahan dari penurunan 0.9% pada kuartal kedua.
Revisi meningkat pada impor Amerika juga merupakan salah satu faktor dibalik laporan GDP yang lebih rendah dibanding laporan sebelumnya. Nilai impor dilaporkan meningkat 20.8% (annual rate), peningkatan terbesar sejak kuartal kedua tahun 1985, meningkat dari 16.4% pada laporan bulan lalu. Meningkatnya nilai impor menunjukan banyaknya kebutuhan domestik yang dipenuhi oleh produksi luar negeri. Data impor memberi kontribusi sebesar 2.53% terhadap perubahan GDP.
Tekanan lainnya datang dari kontruksi bangunan di luar perumahan (komersial), yang turun 15.1%, lebih besar dibanding penurunan 9.0% pada laporan sebelumnya. Turunnya investasi pada properti komersial (non residential) menggambarkan masih besarnya masalah dalam pasar properti komersial yang menggerus lebih dari 0.5% pertumbuhan GDP. Para pebisnis juga mengurangi persediaan produk (inventories) sedikit lebih cepat dibading yang diantisipasi.
Namun setitik harapan terhadap masa depan pemulihan ekonomi Amerika datang dari pasar perumahan yang merupakan pusaran dari resesi mendalam sejak Great Depression tahun 1930-an dan kepercayaan konsumen. The Standard & Poor's/Case-Shiller melaporkan indeks harga perumahan di 20 kota metropolitan meningkat 0.3% pada bulan September, peningkatan selama 4 bulan berturut-turut. Analis menyatakan paket pemotongan pajak bagi pembeli perumahan pertama membantu pemulihan sektor tersebut. Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (YoY), indeks harga di 20 kota metropolitan dilaporkan turun 9.4%.
Kepercayaan konsumen juga dilaporkan meningkat pada bulan November. The Conference Board melaporkan the Conference Board Consumer Confidence Index ®, yang diluar perkiraan turun pada bulan Oktober, sedikit meningkat pada bulan November. Nilai indeks kini berada pada level 49.5 dari revisi meningkat bulan sebelumnya sebesar 48.7. Direktur the Conference Board Consumer Research Center Says Lynn Franco menyatakan indeks situasi saat ini hampir tidak mengalami perubahan dan tatap pada level yang tidak terlihat dalam 26 tahun terakhir. Peningkatan moderat terjadai pada pandangan jangka pendek dengan berkurangnya perentase konsumen yang memperkirakan kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja memburuk, sebagai kebalikan dari meningkatnya persentase konsumen yang memperkirakakan kondisi meningkat. Ekspektasi pendapatan juga tetap pesimis dan konsumen memasuki musim liburan dalam suasana berhemat.
GDP Jerman direvisi meningkat
Berbeda dengan ekonomi Amerika, pertumbuhan ekonomi Jerman pada kuartal ketiga justru direvisi meningkat dibanding estimasi sebelumnya. The Federal Statistics Office kemarin melaporkan estimasi kedua gross domestic product negara ekonomi terbesar Eropa tersebut tumbuh 0.7%, meningkat dibanding revisi estimasi pertama yang dirilis bulan sebelumnya sebesar 0.4%. Serangkaian langkah stimulus meliputi subsidi terhadap kendaraan yang memberi dorongan jangka pendek bagi konsumsi personal.
Ekonomi Jerman keluar dari resesi terdalam sejak PD II pada kuartal kedua lalu dan diperkirakan pemulihan ekonomi Jerman masih memiliki momentum. Pada kuartal ketiga, cadangan produk industi (inventories) dan investasi meningkat, dan sentimen bisnis lebih besar. The IFO economic institute's business climate index menunjukan sentimen dalam sektor manufaktur, sektor krusial bagi pertumbuhan ekonomi Jerman yang berorientasi ekspor, mengalami peningkatan. IFO melaporkan indeks iklim bisnis, didasarkan pada polling bulanan terhadap 7.000 perusahaan, meningkat ke level tertinggi selama 15 bulan, membawa setnimen perusahaan ke level tertinggi sejak sebelum bangkrutnya bank investasi Amerika Lehman brothers tahun 2008. IFO index meningkat menjadi 93.9 dari revisi meningkat 92.0 pada bulan sebelumnya.
US dollar menguat
Estimasi kedua pertumbuhan ekonomi Amerika yang lebih rendah dibanding estimasi pertama menimbulkan kekhawatiran terhadap outlook pemulihan ekonomi global. Fakta tersebut selolah membuktikan pernyataan pemerintah bahwa kepastian keluarnya ekonomi Amerika dari resesi akan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mewujudkannya. The National Bureu of Economic Research bertanggung jawab untuk menentukan kapan kontraksi dimulai dan berakhir. Kepala komite, Robert Hall, bulan Agustus lalu menyatakan dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun untuk grup (NBER) untuk menghasilkan sebuah kesimpulan. Pasar tenaga kerja, menjadi sektor ekonomi utama yang masih membutuhkan waktu lebih panjang untuk pemulihan. Bulan Oktober lalu, tingkat pengangguran melonjak ke level tertinggi selama 26½ tahun menembus level psikologis 10% ke 10.2%, meningkat dari 7.6% saat Presiden Barack Obama memangku jabatannya Januari lalu. Sejak resesi dimulai Desember 2007, ekonomi Amerika telah kehilangan 7.3 milyar pekerjaan. Penurunan tenaga kerja mencapai puncaknya sebanyak 741.000 pada bulan Januari sebelum turun menjadi 190.000 Oktober lalu.
Bagi investor di pasar mata uang, terganggunya outlook pemulihan ekonomi global diratikan sebagai isyarat untuk mengurangi perburuan terhadap aset-aset maupun mata uang dengan imbal hasil tinggi dalam perdagangan beresiko yang meningkat di awal pekan. Investor kini berbalik memburu US dollar maupun yen sebagai mata uang aman. Akibatnya, US dollar rebound dari pelemahan sebelumnya. Indeks dollar =USd> yang merupakan indeks nilai tukar US dollar tehadap 6 mata uang partner perdagangan utamanya bangkit dari keterpurukan di awal pekan menguat mendekati level tertinggi baru selama 2 pekan di 75.879 akhir pekan lalu menguat hingga 75.306.
US dollar rebound dari level psikologis $1.5000 terhadap euro, menguat hingga $1.4889. Terhadap mata uang utama lainnya, US dollar menguat mengikis pelemahan sebelumnya. Namun US dollar tertekan terhadap yen, terpuruk ke level terendah selama 6 pekan ke ¥88.36. Pelemahan terhadap yen dipicu oleh tingginya permintaan terhadap yen baik sebagai mata uang aman maupun untuk mengembalikan dana pinjaman dari bank-bank Jepang yang sebelumnya digunakan untuk membeli aset-aset maupun mata uang dengan imbal hasil tinggi.
sumber:centuryrealtime.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar