
Kejatuhan perusahaan investasi milik pemerintah Dubai, Dubai World, yang mengemuka pada hari Rabu lalu terus menjadi fokus di pasar finansial hingga pardagangan akhir pekan kemarin. Permintaan pemerintah Dubai untuk merestrukturisasi utang dan menunda pembayaran milyaran surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan investasi Dubai World dan anak perusahaan properti utamanya Nakheel, developer three palm shaped islands yang telah menarik para selebiritis dan orang-orang super kaya. Jatuhnya perusahaan investasi terbesar di timur tengah tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya krisis pasar finansial global babak kedua setelah krisis sebelumnya yang dipicu oleh keruntuhan pasar derivatif kredit perumahan Amerika (subprime mortgage) awal tahun 2007 lalu.
Besarnya nilai surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan investasi tersebut, Dubai World, yang sebagian besar dipegang oleh bank-bank besar, terutama bank-bank Eropa menimbulkan kekhawatiran terhadap pemulihan sektor perbankan yang telah mulai pulih sebagai hasil dari berbagai upaya dari pemerintah maupun bank sentral di berbagai negara. Berdasarkan sumber dari perbankan yang disampaiakn kepada Thomson Reuters, bulan Agustus lalu, nilai liabilitas Dubai World mencapai $59 milyar, bagian terbesar dari total surat utang Dubai senilai $80 milyar. Pengungkapan bank-bank internasional yang berhubungan dengan Dubai World kemungkinan dapat mencapai $12 milyar dalam sindikasi dan utang bilateral.
Analis memperkirakan Dubai akan memperoleh dukungan finansial dari Abu Dhabi, meskipun kemungkinan harus meninggalkan sebuah model ekonomi yang terfokus pada pengembangan pembersihan padang pasir dengan uang asing dan buruh. Namun prospek bailout memberi sedikit pengaruh untuk menghapus perhatian diantara investor, yang mengkhawatirkan ekonomi global kemungkinan tidak akan pulih secara cukup cepat untuk menyeimbangkan hampir dua kali lipat harga bagi saham-saham di pasar negara-negara berkemang dan banyak komoditi sejak Maret lalu.
Bank-bank di Eropa dan Asia berusaha untuk menauhkan diri dari masalah dalam perdagangan di teluk dan pusat turisme tersebut. Sikap bank-bank tersebut membantu saham-saham Eropa membalik penurunan sebelumnya dan mencetak nilai tertinggi harian seiring tindakan pasar menilai ulang signifikansi masalah Dubai. Para penyandang dana di Abu Dhabi, anggota Uni Emirate Arab dan sumber minyak, meminjamkan sejumlah besar dana bagi Dubai. Abu Dhabi Commercial Bank membuka paling tidak 8-9 milyar dirham ($2.2-2.5 milyar) kepada Dubai World, mendorong bank tersebut membukukan lebih banyak provisi.
Namun JP Morgan menyatakan hanya sedikit memberi perhatian tentang hubungan exposure bank-bank global terhadap Dubai World dan tidak khawatir terhadap Abu Dhabi, yang memegang milyaran dollar. Kami lebih memperhatikan efek samping dalam UEA. Masih tidak jelas apakah pemerintah Dubai akan mensupport liabilitas-liabilitas pemerintah yang ada, tambah JP Morgan. Di sisi lain, manager-manager pembiayaan internasional (international fund managers) menyatakan mereka tengah mempertimbangkan memutar uang keluar dari Dubai dan ke Abu Dhabi, Qatar, dan Mesir setelah pasar lokal mulai buka hari Senin mendatang setelah liburan idul Adha.
Berita kejatuhan perusahaan investasi Dubai World menimbulkan gelombang maha dahsyat di pasar finansial global, mulai dari pasar modal, komoditi, hingga pasar mata uang pada dua hari terakhir perdagangan pekan lalu. Hari Kamis lalu, indeks saham Eropa anjlok lebih dari 3% dan sebelum berhasil mengurangi pelemahannya pada perdagangan akhir pekan. di busa Asia, indeks saham Hangseng ditutup melemah 4.8%, indeks saham Korea turun 4.7%, dan indeks sahamNikkei turun 3.2%.
Bagi investor di pasar mata uang, mencuatnya kekhawatiran terhadap kelanjutan pemulihan pasar finansial akibat kejatuhan Dubai World menjadi alasan untuk membukukan keuntungan atas aset-aset beresiko. Investor melepas aset-aset maupun mata uang dengan imbal hasil tinggi (risk aversion) pada dua hari terakhir yang mengakibatkan mata uang dengan suku bunga lebih tinggi terpuruk terhadap US dollar maupun yen yang banyak digunakan sebagai mata uang aman. Euro terus terekan menjauh dari level tertingginya selama 15 tahun terhadap US dollar di $1.5144 hari Rabu lalu tertekan menembus level psikologis $1.5000 ke level terendah selama 1 pekan ke $1.4830. Pound sterling terkoreksi dari level tertinggi selama 1 pekan di $1.6745 hari Rabu lalu melemah ke level terendah selama lebih dari 3 pekan ke $1.6272, Swiss franc terkoreksi dari level tertinggi selama 19½ bulan di CHF 0.9914 hari Kamis lalu, tertekan menembus level keseimbangan dengan US dollar (CHF 1.0000) ke CHF 1.0175 dan aussie terkoreksi dari level tertinggi selama 1 pekan di $0.9322 hari Rabu dan Kamis lalu melemah ke level terendah selama 3½ pekan ke CHF 0.8947. Terhadap yen, euro dan sterling teretkan ke level terendah selama 7 bulan masing-masing ke ¥126.89
Di sisi lain, yen terus menguat melanjutkan penguatan sebelumnya. yen menguat ke level tertinggi baru hampir 14½ tahun ke ¥84.83 sebelum terkoreksi ke atas area penutupan sebelumnya ¥86.52. Penguatan yen ditopang oleh kebijakan pemerintah Jepang yang lebih toleran terhadap penguatan yen yang diperkuat dengan pernyataan bahwa bank sentral (BoJ) tidak akan melakukan tindakan langsung berupa intervensi untuk menjaga yen tatap lemah seperti yang disampaikan hari Kamis lalu. Namun analis memperkirakan BoJ baru akan melakukan intervensi apabila yen menguat menembus level ¥85.00 sehingga setelah menguat ke ¥84.83, investor berbalik melepas yen untuk menghindari kerugian apabila BoJ benar-benar melakukan intervensi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar