Kamis, 12 November 2009

BoE Terbuka untuk Menambah Dana QE


Kebijakan BoE meningkatkan likuiditas melalui program pembelian aset atau yang umum disebut kebijakan Quantitative Easing (QE) kembali menjadi isu utama yang mendominasi sentimen perdagangan hari Rabu kemarin. QE adalah salah satu kebijakan yang digunakan bank sentral untuk memompakan likuitias kedalam ekonomi melalui pembelian aset-aset, mulai dari aset-aset treasury pemerintah hingga surat utang perusahaan-perusahaan yang berbasis kredit perumahan. Kebijakan quantitative easing diadopsi oleh bank-bank sentral utama sebagai upaya meningkatkan kemampuan pemerintah maupun bank-bank komersial dalam mengucurkan kredit kepada konsumen maupun pengusaha yang mengkerut sejak krisis finansial mendera pasar-pasar finansial global.

Perhatian terhadap kebijakan QE, khususnya yang diterapkan bank sentral Inggris (BoE) mengemuka pekan lalu setelah BoE memutuskan meningkatkan anggaran QE sebesar £25 milyar menjadi £200 milyar. Penambahan tersebut merupakan penambahan keempat dari alokasi awal sebesar £75 milyar, ditambah £50 milyar pada MPC meeting 7 Mei, dilanjutkan dengan penambahan £25 milyar pada bulan Juni, dan £50 milyar pada MPC meeting bulan Agustus. Dengan penambahan tersebut, total dana yang dikucurkan kedalam ekonomi Inggris melalui program QE menjadi £200 milayar. Pasca penambahan pekan lalu, para pelaku pasar memperkirakan penambahan tersebut merupakan penambahan terakhir. Ekspektasi tersebut didasari oleh terus meningkatnya indikasi pemulihan ekonomi global. Kuatnya indikasi pemulihan ekonomi global bahkan mendorong para pelaku bahkan mulai terkonsentrasi pada kemungkinan akan diakhirinya dukungan bagi ekonomi oleh bank-bank sentral dengan menarik kucuran dana dalam program QE.

Keterbukaan BoE untuk terus menambah alokasi dana untuk program pemelian aset disampaikan Gubernur BoE Mervyn King pasca menyampaikan laporan inflasi kuartalan BoE kemarin. Dalam pernyataanya King menyatakan Bank of England terbuka berkenaan pemompaan lebih banyak uang kedalam ekonomi. Dalam jangka pendek, terlalu dini untuk menghentikan tindakan kebijakan moneter, tambah King.

Kesiapan BoE untuk melanjutkan dukungannya bagi pemulihan ekonomi dilandasi oleh fakta masih terkoyaknya ekonomi Inggris. Gross Domestic Product (GDP) Inggris kuartal ketiga di luar perkiraan terkontraksi 0.4%, kantor statistik Inggris mealporkan 23 Oktober lalu. Defisit perdagangan Inggris membengkak ke lvel tertinggi selama 8 bulan pada bulan September seiring meingkatnya permintaan terhadap kendaraan menyebabkan nilai impor meningkat dua kali lipat dibanding ekspor. Inggris bahkan menjadi negara terakhir yang keluar dari resesi stelah ekonomi Amerika, Jepang, dan beberapa negara besar Uni Eropa seperti Jerman dan Perancis berhasil keluar dari resesi pada kuartal keiga dengan membukukan pertumbuhan ekonomi.

Pesimisme BoE terhadap prospek pemulihan ekonomi Inggris juga tergambar dalam laporan inflasi kuartalan yang dirilis kemarin. BoE memperkirakan ekonomi Inggris baru akan mulai tumbuh pada awal tahun depan dan kemudian tumbuh 3.75% pada akhir 2011. BoE juga memperkirakan inflasi akan berada di bawah target 2.0% dalam 2 tahun kedepan apabila suku bunga ditingkatkan secara bertahap mulai pertengahan 2010.

Selain berbicara tentang kelanjutan program QE, dalam pernyataannya King juga mengulas perlunya pelemahan stering bagi pemulihan. King menyatakan, depresiasi starling akan membantu menyeimbangkan kembali ekonomi pemulihan aktivitas ekonomi dari ekspor dan bahwa pertumbuhan ekonomi Inggris nampaknya tidak akan kembali ke level sebelum krisis dalam jangka pendek.

Kesiapan BoE untuk terus meningkatkan program pembelian aset (QE) serta perlunya pelemahan sterling bagi pemulihan ekonomi memberi sentimen negatif bagi pergerakan nilai tukar sterling kemarin. Sterling terpuruk ke level terendah sejak keputusan BoE meningkatkan anggaran QE 5 November lalu ke $1.6537 dengan penurunan harian terbesar sejak 23 Oktober saat pemerintah Inggris mengumumkan ekonomi Inggris kembali terkontraksi 0.4% pada kuartal ketiga tahun ini. Sterling terkoreksi dari level tertinggi selama 2 pekan di $1.6843 awal pekan lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar