Jumat, 26 Februari 2010

Risk Aversion Berlanjut, Yen & US Dollar Menguat

Daily Brief (26-02-2010), Langkah investor menghindari resiko atas aset-aset dengan imbal hasil tinggi yang dibeli dengan dana pinjaman dari mata uang dengan imbal hasil paling rendah, yen, atau biasa disebut risk aversion tersu berlanjut pada perdagangan hari hari Kamis. Indikasi akan terus tertekannya outlook pemulihan ekonomi global menyusul muramnya serangkaian data fundamental ekonomi yang dirilis kemarin menimbulkan kekhawatiran akan tergerusnya keuntungan atas aset-aset, komoditi, saham, maupun mata uang dalam perdagangan beresiko. Investor berusaha mengamankan investasinya dengan melepas aset-aset tersebut dan mengalihkan dana investasinya kedalam mata uang aman (US dollar dan yen) yang menyebabkan kedua mata uang aman tersebut menguat terhadap segenap mata uang utama lainnya.

Outlook pemulihan ekonomi global terus tertekan. Belum tuntasnya krisis keuangan publik Yunani serta buruknya data fundamental ekonomi terutama dari Amerika menjadi bukti yang memperkuat spekulasi akan tertekannya pemulihan ekonomi global. Perhatian terhadap krisis keuangan Yunani kembali mengemukan menyusul ancaman akan diturunkannya peringkat utang Yunani oleh beberapa lembaga pemeringkat internasional. Beberapa lembaga pemeringkat utang yang menyatakan kemungkinan diturunkannya peringkat utang Yunani anatara lain Standard and Poor’s, Moody’s Investors Service, dan Fitch Ratings.

Hari Rabu lalu, Standard and Poor’s menyatakan pihaknya kemungkinan akan menurunkan peringkat utang Yunani antara satu atau dua tingkat dalam satu bulan. Diantara agensi pemeringkat utang lainnya, Moody’s Investors Service menyatkan beberapa perubahan dalam peringkat utang Yunani akan tergangung pada bagaimana Athena menyampaikan rencana feformasi fiskalnya. Sementara Fitch Ratings memperkirakan untuk mempertahakan peringkat utang Yunani pada BBB+ untuk beberapa bulan mendatang terkecuali adanya kejutan dan menjaga outlook negatifnya.

Dari Amerika, outlook pemulihan ekonomi global tertekan menyusul laporan yang menunjukan jumlah penduduk yang mengajukan tunjangan pengangguran (jobless claims) pekan lalu meningkat lebih besar dari perkiraan. Depertemen Tenaga Kerja Amerika melaporkan jobless claims pekan lalu meningkat menjadi 496.000 tenaga kerja dari 474.000 tenaga kerja (setelah reveisi) pekan sebelumnya. Peningkatan tersebut jauh dari ekspektasi pasar dalam polling Reuters yang memperkirakan berkurang menjadi 45.000 tenaga kerja. Analis menyatakan data tenaga kerja Amerika tersebut sungguh buruk. Hal tersebut nampakanya menjadi titik kritis yang buruk bagi pemulihan ekonomi saat ini. Analis lennya menyatakan terkecuali kita bisa mendapatkan bahwa jumlah penduduk yang mengajukan tungjangan pengangguran mendekati 400.000, tidak akan terjadi penambahan pekerjaan. Sebagai akibatnya, US dollar akan menjadi rentan untuk beberapa saat kedepan.

Hengkanya investor dari perdagangan beresiko memberi dorongan bagi mata uang dengan imbal hasil rendah, terutama yen menguat termasuk terhadap US dollar. Selain ditopang tingginya pembelian yen oleh investor untuk mengembalikan dana investasinya, penguatan yen juga ditopang oleh fungsinya sebagai mata uang aman (safe heaven currency) bersama dengan US dollar. Yen menguat ke level tertinggi selama sekitar 3 pekan terhadap US dollar ke ¥88.81. Terhadap mata uang utama lainnya, yen menguat ke level tertinggi selama 1 tahun ke ¥119.63, ke level terendah selama hampir 1 tahun terhadap Swiss franc dan sterling masing-masing ke ¥134.93 dan ¥81.77 , dan ke level terendah selama hampir 1 pekan terhadap aussie ke ¥78.18.

Mata uang aman lainnya, US dollar, juga menguat terhadap mata uang utama lainnya terutama terhadap sterling. US dollar menguat ke level tertinggi selama hampir 1 pekan terhadap euro ke $1.3452 sebelum berbalik melemah di akhir perdagangan. Menguat ke level tertinggi selama hampir 1 pekan terhadap Swiss franc ke CHF 1.0878 dan ke level tertinggi selama hampir 2 pekan terhadap aussie ke $0.8802. Terhadap sterling, US dollar menguat ke level tertinggi selama 9½ bulan ke $1.5191.

Penguatan US dollar terhadap sterling juga ditopang oleh buruknya outlook pemulihan ekonomi Inggis. Pernyataan BoE hari Rabu lalu yang akan terus meningkatkan program pembelian asetnya apabila kondisi membutuhkan masih menjadi isu utama yang menekan performa sterling. Tekanan tehadap seterling semakin kuat menyusul laporan yang menunjukan turunnya investasi bisnis Inggris pada tiga bulan terakhir tahun lalu yang mencuatkan kekhawatiran bahwa data GDP yang akan dirilis hari ini tidak akan menunjukan sebuah revisi meningkat pada kuartal terakhir tahun lalu sebagaimana diperkirakan pasar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar