Nikkei 225 atau “Nikkei heikin kabuka” adalah indeks dari 225 saham perusahaan pilihan yang diperdagangkan di Tokyo Stock Exchange (TSE). Indeks ini dihitung setiap harinya oleh “Nihon Keizai Shimbun” sejak tahun 1950, yang merupakan sebuah perusahaan media cetak di Jepang. Indeks ini dihitung berdasarkan harga rata – rata semua saham terdaftar (dalam Yen) dan komponennya akan ditinjau ulang setahun sekali.
Sebelumnya, indeks ini dikenal sebagai Nikkei Dow Jones Stock Average dari tahun 1975 sampai 1985. Indeks berjangka Nikkei 225 diperkenalkan di Singapore Exchange (SGX0 pada tahun 1986, the Osaka Securities Exchange (OSE) pada tahun 1988, Chicago Mercantile Exchange (CME) pada tahun 1990, dan akhirnya sekarang indeks berjangka ini dikenal secara internasional.
Source: http://wikipedia.org
Nikkei mencetak angka tertingginya sepanjang sejarah di level 38957,44 pada tanggal 29 December 1989. Angka tertinggi di abad ke-21 ini berada di level 18300.
Nikkei Masih Tertahan Dua Bulan Terakhir
Pertumbuhan ekonomi Jepang selama 3 dekade terakhir sangatlah spektakuler. Sampai pada abad ke-21, Jepang tercatat sebagai negara dengan perekonomian ke-2 terbesar di dunia setelah Amerika Serikat. Jepang dikenal mempunyai ekonomi yang efisien, variatif, dan sangat kompetitif. Jepang juga mempunyai tenaga kerja yang sangat berkualitas dan sehingga bertengger di peringkat ke-11 dunia dalam kategori produktivitas.
Jepang termasuk negara yang terhantam cukup parah akibat krisis ekonomi di Amerika Serikat yang terjadi pada pertengahan tahun 2008 lalu. Seperti negara tetangganya China dan Korea Selatan, motor penggerak utama ekonomi Jepang berada pada sektor ekspornya terutama bidang otomotif. Krisis kali ini telah membuat sektor ekspor Jepang lumpuh.
Nikkei sempat anjlok ke level terendah setahun terakhir di level 6994,9 pada tanggal 28 Oktober 2008 lalu. Tetapi stimulus fiskal Jepang sebesar 5 triliun Yen ($51 Milyar) yang diumumkan pada akhir Oktober 2008 lalu telah berhasil mengangkat Nikkei ke level 9325,35 di bulan Januari 2009. Tetapi ternyata stimulus tersebut masih belum cukup, sehingga Nikkei sempat merosot kembali ke level 7021,28 di bulan Maret 2009. Maka di awal bulan April 2009, Jepang kembali mengumumkan paket stimulus baru sebesar 15,4 triliun Yen ($154 Milyar). Selepas dari bulan Maret, pasar modal secara global beranjak meninggalkan level terendah mereka.
Pada bulan Juli 2009, indeks berjangka Nikkei 225 dibuka pada level 9885 dan secara keseluruhan berhasil membukukan kenaikan di akhir bulan ini. Tetapi dari awal sampai pertengahan bulan ini, indeks ini mengalami penurunan yang tajam dan sempat anjlok ke level terendahnya di harga 9020. Pemerosotan ini karna lemahnya permintaan global yang berimbas ke sektor ekspor dan mata uang Yen yang terus menguat juga tidak membantu karena Yen yang lemah lebih baik untuk sektor ekspor Jepang. Tetapi menjelang akhir bulan, sentimen positif meliputi pasar modal karena ekonomi Amerika mulai menunjukkan kestabilan. Nikkei ditutup menguat di posisi 10356,83 dan indeks berjangkanya ditutup pada posisi 10350 di akhir bulan.
Agustus 2009 merupakan bulan bersejarah bagi Jepang, partai LDP (Liberal Democratic Party) yang telah memegang kekuasaan di Jepang selama hampir setengah abad, akhirnya harus mengaku kalah terhadap oposisinya DPJ (Democratic Party of Japan). Pergerakan indeks Nikkei di sepanjang bulan ini sangat volatil karena situasi politik tersebut. Di bulan ini indeks berjangka Nikkei 225 dibuka pada posisi 10320 dan berhasil mencapai level tertingginya setahun terakhir di level 10765 pada tanggal 31 September, level terendah bulan ini berada pada level 10110. Di akhir bulan, Nikkei ditutup menguat di posisi 10492,53 dan indeks berjangkanya di posisi 10425.
Di bulan September 2009, pergerakan indeks Nikkei masih sideways. Hal ini karena dianggap partai DPJ masih sulit beradaptasi karena baru pertama kali berkuasa sejak 50 tahun terakhir. Indeks berjangka Nikkei 225 bulan ini dibuka pada level 10450, sempat melemah ke level 10125 pada tanggal 14 September. Pada tanggal 24 September, berhasil menguat ke level 10525 dan ditutup pada level 10335. Sedangkan di tanggal 25 September, indeks ini ditutup merosot ke level 10220.
Outlook Nikkei 2009
Sektor ekspor Jepang sampai saat ini masih belum pulih, tercatat ekspor Jepang telah merosot selama 11 bulan terakhir di bulan Agustus 2009. Ekspor ke Amerika menurun 34,4%, ke China menurun 27,6%, dan ke Eropa anjlok 45,9% sejak November 2008 lalu.
Jepang yang juga dikenal ketat dalam mengontrol mata uangnya, ternyata tidak melakukan intervensi di tengah penguatan mata uang Yen yang jelas menghambat pemulihan ekspor Jepang.
Perdana menteri Jepang yang baru Yukio Hatoyama berfokus untuk menstimulasi tingkat konsumsi dan peningkatan upah tenaga kerja, tetapi menurut penilaian beberapa ekonom Jepang, kebijakan tersebut dinilai justru akan mempersulit perekonomian Jepang saat ini.
Melihat perekonomian Jepang yang masih kesulitan, pada tanggal 24 September Hatoyama menyatakan bahwa ia berkomitmen untuk membangkitkan perekonomian ke-2 terbesar di dunia tersebut dan berusaha untuk menciptakan komunitas zona Asia TImur seperti komunitas Uni-Eropa. Walaupun pemulihan ekonomi Jepang terlihat belum stabil, tetap ada optimisme bahwa Jepang mampu keluar dari resesi ini. Di bulan Oktober ini, diperkirakan indeks berjangka Nikkei 225 berpeluang mengetes resistance terdekat di posisi ke level 10750. Sampai akhir tahun ini, diperkirakan dapat menanjak ke level 12000
(Wahyu Sidarta/WS/vbn)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar