Ekonomi Jepang Tenggelam dalam Resesi Lebih Dalam
Daily Brief [17-02-2009] -- Ekonomi di negara ekonomi terbesar kedua dunia, Jepang, tenggelam dalam rersesi yang lebih dalam. The Cabinet Office di Tokyo Senin kemarin mengumumkan estimasi pertumbuhan ekonomi (GDP) kuartal keempat tahun 2008 direvisi menjadi (minus) 12.7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (annual) dari data perliminary yang dirilis bulan lalu sebesar (minus) 1.8%, lebih besar dibanding eksepktasi pasar yang memperkirakan turun 11.7%. Penurunan tersebut merupakan penurunan terbesar selama 35 tahun. Dibanding kuartal sebelumnya (q/q) ekonomi Jepang direvisi turun (minus) 3.3% dari data sebelumnya (minus) 0.5%. Penurunan ekonomi Jepang (3.3%) merupakan penurunan terbesar dibanding negara-negara lainnya seperti Amerika yang turun 1.0%, Uni Eropa dan Inggris masing-masing 1.5%.
Sebagai negara indutri yang sebagian besar produknya berorientasi ekspor, krisis ekonomi global, teruatma di negara-negara maju seperti Amerika menyebabkan anjloknya penjualan. Bukan hanya di negara-negara besar, penurunan penjualan produk-produk industri Jepang juga terjadi di negara-negara berkembang sebagai imbas dari krisis finansial global. Beban eksportir Jepang juga kian besar menyusul menguatnya yen terhadap segenap mata uang utama lainnya beberapa bulan terakhir. Tingginya nilai tukar yen menyebabkan produk-produk Jepang kurang kompetitif di pasar internasional serta menurunkan nilai penjualan ketika dikonversikan kedalam mata uang domestik; yen, dimana yen Jepang menguat 18% tahun lalu.
Eksport Jepang untuk pertama kalinya turun tajam 13.9% pada kuartal keempat dibanding kuartal sebelumnya seiring turunnya permintan terhadap produk-produk otomotif seperti Corolla dan produk-produk elektronika seperti televisi. Rendahnya penjualan memaksa produsen-produsen Jepang seperti Toyota Motor Corp., Sony Corp., dan Hitachi Ltd. (yang ketiganya diperkirakan mengalami kerugian) merumahkan ribuan tenaga kerjanya, menimbulkan ancaman penurunan daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan memperpanjang resesi di negara ekonomi terbesar kedua tersebut.
Buruknya outlook ekonomi Jepang menekan tingkat kepercyaan masyarakat terhadap kinerja ekonomi. Kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi Jepang terus mengalami penurunan mendekati level terendahnya hampir selama 26 tahun. Pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan-perusahaan Jepang menyebabkan tingkat pengangguran membengkak menjadi 4.4% pada bulan Desember dari 3.9% bulan sebelumnya, peningkatan terbesar selama 4 dekade. Ekonom menyatakan ekseptasi terbaik tahun ini adalah melihat berhentinya penurunan ekonomi dengan syarat ekonomi Amerika dan China pulih terlebih dahulu.
US Dollar & Yen Rally
Kian mendalamnya resesi yang terjadi di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut (Jepang) menimbulkan kekhawatiran terhadap outlook ekonomi global. Ancaman penurunan ekonomi global sebelumnya disampaikan menteri-meteri keuangan dan bank sentral dari negara-negara G7 yang menyatakan penurunan tajam ekonomi global akan berlanjut pada sebagian besar tahun 2009. Kuatnya kekhawatiran terhadap ancaman penurunan ekonomi global mendorong investor melepas aset-aset beresiko dalam carry trade dan mengalihkannya kedalam mata uang aman (US dollar dan yen) sehingga mendorong kedua mata uang tersebut menguat. Dalam sidangnya di Roma akhir pekan lalu G7 juga menghindari untuk membuat pernyataan yang mendukung upaya pemerintah Jepang untuk melemahkan mata uangnya. US dollar bahkan menguat ditengah tutupnya pasar Amerika dalam rangka President Day.
Sebagai negara indutri yang sebagian besar produknya berorientasi ekspor, krisis ekonomi global, teruatma di negara-negara maju seperti Amerika menyebabkan anjloknya penjualan. Bukan hanya di negara-negara besar, penurunan penjualan produk-produk industri Jepang juga terjadi di negara-negara berkembang sebagai imbas dari krisis finansial global. Beban eksportir Jepang juga kian besar menyusul menguatnya yen terhadap segenap mata uang utama lainnya beberapa bulan terakhir. Tingginya nilai tukar yen menyebabkan produk-produk Jepang kurang kompetitif di pasar internasional serta menurunkan nilai penjualan ketika dikonversikan kedalam mata uang domestik; yen, dimana yen Jepang menguat 18% tahun lalu.
Eksport Jepang untuk pertama kalinya turun tajam 13.9% pada kuartal keempat dibanding kuartal sebelumnya seiring turunnya permintan terhadap produk-produk otomotif seperti Corolla dan produk-produk elektronika seperti televisi. Rendahnya penjualan memaksa produsen-produsen Jepang seperti Toyota Motor Corp., Sony Corp., dan Hitachi Ltd. (yang ketiganya diperkirakan mengalami kerugian) merumahkan ribuan tenaga kerjanya, menimbulkan ancaman penurunan daya beli masyarakat yang pada akhirnya akan memperpanjang resesi di negara ekonomi terbesar kedua tersebut.
Buruknya outlook ekonomi Jepang menekan tingkat kepercyaan masyarakat terhadap kinerja ekonomi. Kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi Jepang terus mengalami penurunan mendekati level terendahnya hampir selama 26 tahun. Pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan-perusahaan Jepang menyebabkan tingkat pengangguran membengkak menjadi 4.4% pada bulan Desember dari 3.9% bulan sebelumnya, peningkatan terbesar selama 4 dekade. Ekonom menyatakan ekseptasi terbaik tahun ini adalah melihat berhentinya penurunan ekonomi dengan syarat ekonomi Amerika dan China pulih terlebih dahulu.
US Dollar & Yen Rally
Kian mendalamnya resesi yang terjadi di negara ekonomi terbesar kedua dunia tersebut (Jepang) menimbulkan kekhawatiran terhadap outlook ekonomi global. Ancaman penurunan ekonomi global sebelumnya disampaikan menteri-meteri keuangan dan bank sentral dari negara-negara G7 yang menyatakan penurunan tajam ekonomi global akan berlanjut pada sebagian besar tahun 2009. Kuatnya kekhawatiran terhadap ancaman penurunan ekonomi global mendorong investor melepas aset-aset beresiko dalam carry trade dan mengalihkannya kedalam mata uang aman (US dollar dan yen) sehingga mendorong kedua mata uang tersebut menguat. Dalam sidangnya di Roma akhir pekan lalu G7 juga menghindari untuk membuat pernyataan yang mendukung upaya pemerintah Jepang untuk melemahkan mata uangnya. US dollar bahkan menguat ditengah tutupnya pasar Amerika dalam rangka President Day.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar